KORUPSI DAN KUTUKAN LANGIT
Bang Zul Rumah Transformasi Indonesia “Kepada siapapun, apakah dia orang pendatang atau orang asli Martadipura yang telah meminum air Sungai Mahakam. Jika dia membawa harta atau kekuasaan yang didapat secara tidak halal, maka terkutuklah orang tersebut dengan suatu bala (bencana). Kutukan ini berlaku jika ke hilir melalui Kutai Lama (muara Sungai Mahakam), sedang jika ke hulu sebatas Pinang Sendawar (hulu Sungai Mahakam)” Kutipan di atas adalah bunyi dari kutukan Kudungga, Maharaja Kerajaan Kutai Martadipura yang berpusat di Muara Kaman, tempat ditemukan yupa atau prasasti yang menjadi bukti sejarah kerajaan tertua Nusantara. Menurut budayawan dan sejarawan Kalimantan Timur, Djohansyah Balham, kutukan tersebut adalah murka Kudungga terhadap pejabat kerajaan yang berkhianat, tamak, memperkaya diri sendiri dengan melakukan pungutan liar kepada rakyat. Kutukan kudungga itu menjadi akhir cerita si pejabat serakah yang melarikan diri di malam hari dengan membawa serta harta dan keluarga...