LIMA BELAS SISWA DAN FILSAFAT KENANGAN
Bang Zul
Rumah Transformasi Indonesia
Tahun 2006, adalah tahun kedua kami sekolah.
Artinya kami sudah naik kelas. Di tahun itu penjurusan adalah wajib, ber-limabelas kami ambil jurusan
IPA. Bagi saya, mungkin sebagian kecil lainnya adalah satu bentuk kenekatan.
Hal itu berdasar pada imaji bahwa
anak-anak IPA adalah mereka yang harus:
menghafal rumus matematika, fisika dan tabel periodik kimia. Belum lagi soal tugas-tugas
rumah yang menyita waktu. Kerumitan dan kesulitan itu membuat siswa-siswa XII
IPA secara alamiah menjadi sangat solider.
Meskipun, (mungkin awalnya) solidaritas itu terbentuk karena perasaan yang
sama, sama-sama tertekan sekaligus
(mungkin) termotivasi dengan sukarnya beberapa mata
pelajaran. Untuk menggambarkan suasana itu,
saya
sendiri pernah remedial
ulangan matematika sampai tujuh kali. Sekali lagi, tujuh kali. Mengerjakannya
di tengah lapangan. Untungnya, saya tidak sendiri. Bisa terbayangkan betapa kuat
keteguhan hati dan karakter guru matematika kami saat mendidik kami saat itu?.
Suatu hari, terjadwal kelas matematika. Dan,
pada saat yang sama, (mungkin) karena jenuh, disebabkan ide satu orang yang sepertinya disetujui oleh semua:
bolos berjemaah. Niat itu, didukung penguasaan teritorial: dinding kelas kami
berbatasan dengan pagar sekolah, di sisi
luar pagar sekolah itu juga, ada lahan kosong menuju rumah teman kami. Apa yang kami lakukan atas
dasar pengetahuan itu?. Di jam istirahat, kami telah mengeluarkan 12 tas kami,
melalui pagar batas sekolah itu. Saat tas terakhir hendak kami keluarkan, saat
itu juga bel masuk berbunyi. Sedang, guru matematika kami telah terlihat,
langkahnya sudah terdengar mendekat. Apa yang terjadi?, tiba-tiba,
beliau mengatakan: hari ini kita ujian!. Hal yang hendak dihindari terjadi
juga. Kami laksanakan ujian dengan menggunakan lembaran kosong dari buku teman
kami yang tasnya belum sempat dikeluarkan itu. Ujian tetap kami kerjakan
seadanya, sebisanya. Jelas, dalam pikiran saya, sepertinya akan remedial lagi.
Dari peristiwa tersebut, apakah sebenarnya
kenangan 15 anak kelas XII IPA MA Al-Mujahidin Samarinda di tahun 2006 itu
penting?, ataukah sebenarnya kenangan hanyalah kenangan yang hanya indah untuk
diingat, tidak bermakna apa-apa. Meskipun mengenang adalah satu kenikmatan
tersendiri, ternyata terdapat maksud dan tujuan-tujuan lain kenangan. Filsafat
mendiskusikannya. Melalui jalan itu kita akan mendapati makna demi makna.
Kenangan adalah Pengetahuan Yang Membentuk
Identitas
Cerita tentang siasat 15 anak sekolah menghadapi
berbagai tekanan itu adalah satu rekaman keadaan di masa yang lalu. Saat itu, lima belas siswa tersebut pasti
merasakan keadaan yang sama sekali tidak lucu, melainkan ketegangan. Bayangan
tentang hukuman dan akibat yang akan diterima. Tapi, coba ingat keadaan itu
hari ini. Apa yang dirasakan?, sesuatu yang berbeda. Kita
bisa mengatakan hal itu adalah kelucuan, kekonyolan sekaligus kecerobohan.
Kenapa dengan satu potret kenangan yang sama, kita melihat dan memaknainya
dengan cara yang berbeda?. Jawabannya adalah karena kita yang sudah bertumbuh
dan terlengkapi dengan pengalaman-pengalaman baru, kita sudah memiliki sudut
pandang yang lebih kaya memahami kenangan tersebut.
Berdasarkan cerita di atas, perlu dinyatakan
bahwa kenangan adalah syarat pengetahuan, seperti dikatakan oleh Martin
Suryajaya. Kelimabelas anak itu tidak akan pernah tahu cara menghadapi tekanan
jika ujian mendadak guru matematika kami tidak ada; bahwa tanpa kesiapan pun,
di titik tertinggi kekhawatiran mereka tetap bisa menghadapi ujian, pada “bolos
yang gagal” sekalipun (meskipun tidak patut ditiru) tetap ada pelajaran tentang
pentingnya mengatur rencana dengan baik dan tepat, yang untuk selanjutnya
haruslah untuk tujuan positif. Apapun bentuk kenangan, pasti ada pelajaran yang termuat di dalamnya,
yang melahirkan pengalaman dan pengetahuan.
Kenangan menduduki posisi sangat penting
dalam pengetahuan. Tanpa kenangan pengetahuan kita tidak pernah menebal dan
bertambah. Bayangkan misalnya, setiap kejadian di masa lalu, hilang begitu saja tanpa
pernah kita ingat, tentu hanya membuat
kita tidak pernah belajar. Kita akan
selalu memulai dari awal lagi. Untuk itulah mengenang adalah perlu, dengan
syarat melihat kenangan dengan sudut pandang yang lebih menyeluruh. Karena,
dengan cara itulah kenangan menjadi bagian penting dalam melihat masa depan.
Pendapat di atas seiring sejalan dengan apa
yang disebut oleh Elke Greite dalam tulisannya “ The Role of Memory in Identity
and Education” (2023): “ aktivitas mengenang adalah hal yang mendasar untuk
keberlangsungan hidup kita. Kenangan lebih dari sekedar kumpulan pengalaman
masa lalu. Kenangan adalah inti dari siapa kita. Kenangan membentuk pemikiran,
keputusan dan keyakinan kita. Ia juga membentuk identitas kita.”
Berdasarkan cerita lima belas anak di atas, terdapat tiga
hal yang saling terkait, sebagai suatu proses pembentukan identitas berdasarkan
kenangan, yaitu: kenangan itu sendiri, simbol-simbol dan makna. Apa yang kita
simbolkan atas setiap kejadian, itulah yang membentuk makna sekaligus pelajaran. Katakanlah,
simbol yang paling jelas atas peristiwa tersebut adalah kesetiakawanan. Nilai itulah yang
kemudian membentuk mereka. Apakah hal tersebut bisa dibuktikan hari ini?. Melihat
rencana kedatangan mereka di acara reuni akbar alumni al-Mujahidin Samarinda, 8
oktober 2025 nanti, adalah satu bukti utama dari nilai dan identitas orisinal mereka.
Perjalanan dan Pelupaan
Lima belas
siswa itu, lulus pada tahun 2007, setelah mengikui ujian Nasional. Satu dari
mereka “berangkat lebih dulu” memenuhi panggilan Tuhan. Sisa empat belas.
Mereka, menentukan jalan hidup masing-masing. Sebagian bekerja, sebagian
lainnya kuliah. Mereka saling melangitkan doa, mendukung satu sama lain. Di dalam perjalanan itulah, mereka
mengumpulkan berbagai pengalaman dan pengetahuan baru. Sayangnya, pada saat
yang sama, mereka juga mengalami pelupaan, semakin jauh dari kenangan tentang
masa-masa sekolah. Bisa jadi karena persoalan yang semakin besar dan menantang.
Kenangan-kenangan baru tercipta, menumpuk di dalam ingatan. Menindih
kenangan-kenangan lama.
Apakah
pelupaan itu selalu buruk?, tidak. Pelupaan membuat kita tidak hidup hanya
dalam kenangan. Kenangan memang tidak pernah benar-benar hilang. Ia menjadi
sesuatu yang semakin tidak disadari, tetapi tetap ada.
Ketidaksadaran-ketidaksadaran itu terkadang menyelinap masuk begitu saja ke
alam pikiran kita, seperti mengajak kita untuk menelusuri tempat asalnya,
dimana ia akan terlihat lebih jelas. Bisa juga, lewat tanda dan simbol-simbol.
Seperti perasaan tegang mendengar kata ujian, yang ternyata, setelah
diingat-ingat, ia terhubung dengan kejadian belasan tahun silam, saat mereka
melaksanakan ujian matematika secara tiba-tiba tanpa persiapan, setelah gagal
untuk bolos. Contoh sebaliknya, seperti yang saya alami, adalah perasaan
gembira ketika melintasi jembatan Mahakam Samarinda (yang lama), karena sisi
kiri jembatan itulah yang hampir tiap hari saya lewati menuju Sungai Keledang,
lalu menunggu angkot di depan kompi, dan pulang ke Loa Janan. Jika melintasinya,
tiba-tiba kilasan cerita panjang persekolahan hadir. Saya tidak tahan untuk tidak bercerita kepada
anak saya tentang cerita pulang sekolah, melintasi jembatan Mahakam dan juga
kawasan Madrasah yang berada tepat di depannya. Kosa kata seperti ujian dan
jembatan Mahakam seperti menjadi simbol yang menjadi bagian dalam rangkaian
cerita, melengkapi kisah lima belas siswa. Di tengah situasi semacam itu, adalah
menggembirakan mengetahui kabar teman-teman yang dalam keadaan baik-baik saja.
Itulah, yang menyebabkan kita tiba-tiba saja bertanya kabar kepada teman-teman.
Reuni dan Episode Baru Kehidupan
Adalah tidak baik hidup hanya dengan kenangan
yang tidak pernah dimaknai. Kenangan harus jadi energi kehidupan. Dengan cara
mengaksesnya. Melalui cara itulah kita akan terhubung dengan masa lalu, memahami
hari ini dan merumuskan masa depan. Cara memahami kenangan yang telah menjadi
sejarah itu, memiliki keterkaitan teologisnya, seperti disebut Tuhan dalam al-Hasyr
[18]: “Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang
telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Kalimat awal ayat tersebut memuat seruan
kepada orang beriman untuk bertakwa. Takwa menjadi kata kunci utama dalam memerhatikan
apa yang pernah dilakukan di masa lalu.
Kenapa? Seringkali kenangan-kenangan dan sejarah masa lalu diputarbalikkan,
dimanipulasi dan dibelokkan untuk kepentingan-kepentingan yang tidak dibenarkan,
misalnya untuk melegitimasi dan menormalisasi sebuah kesalahan dan
ketidakadilan.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah
bahwa titik akhir dari mengenang adalah Tuhan. Tidak dibenarkan kenangan
digunakan untuk kejahatan yang dikendarai hawa nafsu. Mengenang kenangan
berarti menghubungkan awal dengan akhir dalam dan atas nama Tuhan. Untuk itulah
dalam tafsirnya mengenai ayat tersebut, al-Gharnathi (w. 741 H) dalam
al-Tashil Li ‘Ulum al-Tanzil mengikat makna memerhatikan masa lalu dengan
satu konsep kunci, yaitu muhasabah, merefleksikan – mengevaluasi – memperbaiki.
Kenangan yang kita panggil, idealnya melewati tahapan-tahapan itu agar terlihat buah dari kenangan.
Al-Gharnathi menambahkan, bahwa cara tersebut akan berdampak pada usaha untuk
menjauhi perbuatan buruk, sebaliknya, memotivasi untuk mengerjakan amal saleh.
Dalam narasi agama, “mengenang” menjadi keharusan, seperti
digambarkan dalam pengulangan
ungkapan al-Qur’an
berikut ini: apakah kalian mengingat? (افلا
تتذكرون); supaya mereka ingat (لعلهم
يتذكرون); mudah-mudahan mereka ingat (لعلهم
يذكرون); dan
supaya orang-orang berakal mengambil pelajaran (وليتذكر
اولوا الالباب); sesungguhnya hanya orang-orang yang
berakal-lah yang ingat (انما يتذكر اولوا
الالباب); dan tak ada yang ingat kecuali
orang-orang yang berakal (وما يذكر الا اولوا
الالباب). Nabi Muhammad sendiri, seringkali diperintahkan
oleh Tuhan untuk merefleksikan kisah-kisah dan kejadian masa lalu. Hal itu
dimaksudkan agar Nabi mengambil pelajaran dan lebih kuat dalam menghadapi
tantangan-tantangan baru yang dihadapinya.
Sebagai medium untuk mengingat kenangan, simbol-simbol dan makna, reuni sebenarnya memiliki kesakralannya sendiri. Aktivitas itu membawa kita mengenang, mengumpulkan keping-keping memori masa lalu, yang darinya kita terbentuk. Ada guru-guru yang mengenalkan Tuhan, ada teman-teman yang menguatkan hati, ada madrasah yang pernah menjadi rumah bersama dalam berproses menjadi manusia baik. Dengan titik pijak itu, melalui reuni, kita dapat mengkalibrasi arah dan tujuan gerakan alumni maupun diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik. Pada sisi alumni, kita bisa menentukan kembali arah dan tujuan alumni yang ideal, baik bagi alumninya sendiri, maupun bagi Madrasah. Untuk merumuskan itu, membutuhkan tuan dan puan untuk mengarahkan dan menentukannya. Mari kita datang pada reuni akbar Al-Mujahidin Samarinda 2025 untuk saling bersilaturahmi, merayakan kenangan, mengumpulkan energi positif sebagai bekal untuk episode kehidupan yang baru. Tidak lupa, untuk kembali membangun rindu. [MJ]
Foto: http://mtsalmujahidinsamarinda.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar